SELAMAT DATANG PARA ASSESOR

Dalam rangka akreditasi untuk menjamin mutu pelaksanaan Tri Dharma PT, dua Assesor nasional akan melakukan visistasi ke Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Serambi Mekkah tanggal 09 Mei 2019.

Adapun dua Assesor dimaksud adalah: 1). Dr. Agus Mulyana dari Universitas Pendidikan Indonesia, dan 2). Dr. Umasih, M. Hum dari Universitas Negeri Jakarta.

Segenap Civitas Akademika Program Studi Pendidikan Sejarah, mengucapkan Selamat Datang di Aceh, Selamat Datang di Program Studi kami, Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Serambi Mekkah.

Mahasiswa USM Praktek Magang di BPNB

Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh (BPNB) menerima delapan mahasiswa praktek magang dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sejarah USM selama tiga minggu penuh dikantor setempat, Gampong Mulia, Banda Aceh, Senin (11/3).

Pelaksanaan praktek magang tersebut diterima langsung Kepala BPNB, Iriani Dewi Wanti dan Kasubaq TU.

Kepala BPNB Aceh, Iriani Dewi Wanti, mengatakan penerimaan praktek magang tersebut atas dasar kerja sama antara USM dengan pihaknya beberapa bulan yang lalu, sehingga para mahasiswa tersebut diijinkan melaksanakan magang di lembaga lawatan budaya, seni dan sejarah tersebut.

Menurutnya, BPNB selama ini sudah menjalin kerja sama dengan beberapa kampus negeri lainya, seperti UIN Ar Raniry.

“Disini bisa belajar tentang pengalaman penelitian, pengkajian kesenian, penggunaan kepustakaan, pendokumentasian dan Informasi kesejarahan,” Kata Iriani Dewi Wanti.

Ia menambahkan, BPNB selama ini melakukan pengembangan seni, film dan lawatan sejarah setiap tahun.

Selain itu, Muhammad Nur, Ketua Prodi Pendidikan Sejarah USM mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, yaitu penelitian, pendidikan dan pengabdian.

Muhammad Nur, menambahkan Pendidikan Sejarah USM sedang membagun konsep- konsep baru dalam menyerap ilmu pengetahun dengan melibatkan mahasiswa secara langsung.

USM sebagai kampus dengan pelaku sejarahnya adalah Mr. Muhammad Hasan, karena itu Prodi Sejarah USM harus mengembalikan trah kesejarahan tersebut.

Sumber: https://www.pikiranmerdeka.co/news/mahasiswa-usm-praktek-magang-di-bpnba/

Akademisi Nilai Gaung PDIA Kian Tenggelam Pasca Pemindahan Kantor

Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) dinilai kian tenggelam pasca pemindahan lokasi kantor dari kawasan Lapangan Blang Padang ke Museum Aceh. Lembaga yang menampung arsip-arsip lawas Aceh ini juga disebut-sebut mulai jarang dikunjungi masyarakat.

Hal demikian disampaikan Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Serambi Mekkah (USM) Muhammad Nur, M.Pd. Melalui siaran persnya kepada Habadaily.com, Sabtu (29/12/2018), Muhammad Nur mengungkapkan lembaga PDIA kian jauh terpuruk setelah gedung lama dialihfungsikan menjadi Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Unsyiah.

“Sejak perubahan tersebut, lembaga PDIA ini tidak terdengar lagi gaungnya sehingga keberadaan fakta-fakta sejarah semakin kabur,” kata M Nur.

Dia meminta Direktur PDIA saat ini untuk mengembalikan marwah lembaga tersebut sebagaimana dicita-citakan sang pendiri, Prof Dr Ibrahim Alfian. Menurut Muhammad Nur, sebagai Kepala Penelitian PLPIIS (Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial) pertama di Darussalam, Prof. Alfian telah banyak mengembalikan dokumen-dokumen sejarah Aceh di Belanda lewat bantuan F.G.P Jaquet, Kepala Kearsipan di KITLV (Koninklijk Instituut Voor Taal Land- En Volkenkunde).

Muhammad Nur juga menyayangkan tidak adanya aksi keberlanjutan untuk mempertahankan gedung PDIA yang diresmikan pada 26 Maret 1977 tersebut. Gedung yang berada di jalan Prof A Madjid Ibrahim ini dipergunakan sebagai kantor PDIA di masa pemerintahan Gubernur Muzakkir Walad atas usulan Prof Dr Ibrahim Alfian, MA.

Padahal, kata dia, Muzakkir Walad saat itu membebankan PDIA untuk menjaga identitas Aceh secara keilmuan. Peresmian gedung PDIA tersebut juga sengaja dilakukan dalam rangka mengenang deklarasi 104 tahun ultimatum perang Kerajaan Belanda terhadap Kerajaan Aceh Darussalam.

Namun, gedung yang menyimpan dokumen-dokumen masa lalu Aceh ini justru beralihfungsi menjadi Gedung RSGM di masa pemerintahan Gubernur Zaini Abdullah. Peralihan ini sempat mendapat reaksi dari masyarakat masa itu. Bahkan, Gubernur Aceh bersama Unsyiah belakangan menempatkan sekretariat PDIA di salah satu ruang, di Museum Aceh.

“Selama berkantor di sana, informasi- informasi tentang Aceh sulit sekali diakses karena keberadaan kantor penyimpan data dan informasi sejarah tersebut tidak diketahui masyarakat,” ungkap Muhammad Nur.

Muhammad Nur menyebutkan seharusnya para pihak memperjuangkan kembali PDIA menjadi lembaga memperkenalkan Aceh di mata dunia melalui ilmu pengetahuan. Khususnya bagi turis-turis asing yang berkunjung ke Aceh.

“PDIA tujuannya melihat Aceh secara kajian ilmu pengetahuan, tidak hanya dilihat secara kajian teritorial dan identitas bangsa saja. Anehnya Direktur PDIA sekarang terkesan diam dan mengaminkan pemindahan tersebut hingga hari ini,” pungkas Ketua Prodi Sejarah USM ini.

Sumber: https://habadaily.com/haba-gaya/14386/akademisi-nilai-gaung-pdia-kian-tenggelam-pasca-pemindahan-kantor.html

Universitas Serambi Mekkah Kerjasama dengan Museum Aceh di Bidang Sejarah

Program Studi (Prodi) Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Serambi Mekkah (USM), melakukan kerja sama dengan Museum Aceh, di bidang penelitian dan pengabdian mahasiswa.

“Komitmen pengembangan prodi sejarah dalam hal pengabdian dan penelitian, salah satu bentuk kerja sama yang akan kita lakukan dengan pihak Museum Aceh,” ungkap Ketua Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USM, Mujiburrahman SPd MHum, Selasa (13/2).

Mujiburrahman mengatakan, kerja sama dengan pihak museum adalah sebuah mitra yang strategis. Hal ini dikarenakan kedua menangani masalah yang berkaitan dengan sejarah, sehingga ke depan nanti pihaknya dapat membawa para mahasiswa ke beberapa situs sejarah, khususnya ke museum

“Melakukan kunjungan triwulan ke museum melalui matakuliah wisata sejarah,” ujarnya.

“Dan sisi lain kita akan menggunakan kepakaran museum dalam menjadi dosen tamu di prodi sejarah. Oleh karena itu kami berusaha mengajak pihak museum untuk memberikan materi awal di mata kuliah,” jelasnya lagi.

Sementara itu, Kepala Museum Aceh Dra Junaidah Hasnawati, menyambut baik kerja sama tersebut.

Dia menyampaikan menerima tujuan yang dilakukan oleh Prodi Pendidikan Sejarah USM. Sebab baginya, museum merupakan milik dan bagian dari masyarakat, khususnya mahasiswa sejarah.

“Apalagi ini mahasiswa sejarah yang mana museum juga berkaitan dengan penyimpanan benda-benda bersejarah. Maka sangat tepat museum dijadikan tempat rujukan untuk belajar,” ujarnya.

Junaidah menjelaskan, di bidang pengabdian, Museum Aceh memerlukan mahasiswa sejarah sebagai volunteer atau relawan yang ikut memperkenalkan museum.

“Jadi kami berharap, sama-sama kita berpikir, sama-sama kita berbuat yang terbaik untuk museum dan karena itu yang sangat diperlukan oleh museum,” jelasnya.

“Kita berharap adik-adik mahasiswa ini mau dan siap untuk bekerja sama dengan pihak museum,”  jelasnya lagi.

Kerja sama kedua ditandai dengan penandatanganan MoU yang dilakukan di Ruang Kepala Museum Aceh, Banda Aceh

Sumber: https://akurat.co/id-165701-read-universitas-serambi-mekkah-kerjasama-dengan-museum-aceh-di-bidang-sejarah

FKIP Sejarah USM Teken MoU dengan BPNB Aceh

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sejarah Universitas Serambi Mekkah, melakukan kerjasama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh. Penandatanganan kerja sama itu berlangsung di kantor BPNB di Gampong Mulia, Banda Aceh, Jum’at (22/12).

Kerja sama ini dilakukan dalam bentuk penandatangan MoU dalam bidang pendidikan, pelayanan dokumentasi, kuliah umum, kegiatan seminar, penelitian dan publikasi.

Kepala BPNB Aceh, Irini Dewi, S.s. M. S.p, menyampaikan, lembaganya telah banyak melakukan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi lainya di Aceh seperti Universitas Negeri UIN Arraniry. Irini menambahkan, kerjasama ini sebagai kesepakatan bersama dimana kedepan menjadi tanggung jawab bersama dalam mewujudkannya.

Ka. Prodi Pendidikan Sejarah USM, Mujiburahman dalam kesempatan sama menyampaikan kerja sama ini sebagai agenda yang sudah direncanakan.

“Kita ingin melakukan MoU dengan BPNB dalam segala aspek, kami ingin di ajak menjadi mitra strategis baik dalam bidang penelitian, pendidikan dan pengabdian. Prodi Pendidikan Sejarah USM berkomitmen kuat dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi,” katanya.

Kerjasama ini diakhiri dengan penandatanganan MoU dan penyerahan buku hasil penelitian BPNB Aceh kepada Prodi Pendidikan Sejarah secara simbolis

Sumber: https://www.pikiranmerdeka.co/news/fkip-sejarah-usm-teken-mou-dengan-bpnb-aceh/

Dr. Deny Setiawan: Perkuat Idiologi Negara dengan Nilai Lokal

Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Serambi Mekkah, menyelenggarakan kuliah umum dengan mengusung tema sejarah lokal sebagai pendidikan kebangsaan di Aula RKU MR. DR. Muhammad Hasan, Batoh, Sabtu (25/ 11).

Kuliah umum yang dipandu oleh Muhammad Nur, M. Pd dengan pemateri kunci, Dr. Deny Setiawan, M. Si dari UNIMED ini, dihadiri oleh, Rektor III Universitas Serambi Mekkah, Jalaluddin, M. Pd, Wakil Dekan I FKIP, M. Ridwan, M. Pd, Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi, Dr. Muslem Daood, M. Ed dan Prof. Dr. Yetty Rochwulaningsih, M. Si dari UNDIP

Mujiburahman, M. Hum, Ka. Prodi Pendidikan Sejarah USM dalam sambutannya menyampaikan, kuliah umum ini bertujuan untuk melihat sejarah lokal sebagai pendidikan kebangsaan. Menurut Mujiburahman, sejarah lokal berperan penting dalam membagun karakter bangsa.

Dr. Deny Setiawan, M. Si sebagai pembicara kunci dalam pemaparannya menyampaikan, saat ini sejarah hampir tidak terdegar lagi. Bahkan, menurutnya, orang-orang sejarah sudah kehilangan kesejarahannya.

Peryataan ini bukan tidak beralasan ,mengigat nilai-nilai sejarah bangsa sudah mulai dilupakan generasi muda sekarang.

“Kita sekarang kehilangan sejarah kebangsaan, semakin cerdas orangnya semakin tidak nasionalis, anak-anak muda sekarang semakin kapitalis, mereka tidak suka lagi dengan nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.

Untuk itu Dr. Deny Setiawan mengigatkan generasi muda untuk menguatkan idiologi negara melalui nilai-nilai lokal. Dijelaskan, generasi sekarang perlu memperkuat kemampuan intelektual, sikap dan tindakan agar bangsa ini terselamatkan dari keruntuhan.

“Sebagai contoh, bagaimana Uni Soviet bisa runtuh dikarenakan idiologinya rapuh,” pungkas Dr. Deny Setiawan, M. Si.

Sumber: https://www.pikiranmerdeka.co/news/dr-deny-setiawan-perkuat-idiologi-negara-dengan-nilai-lokal/?amp_markup=1

Petani Garam Aceh Terjerat Kemiskinan

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Serambi Mekkah (USM) Banda Aceh, Kamis (24/8) menggelar Seminar Nasional bertema ‘Ekplorasi Kekayaan Maritim Aceh di Era Globalisasi dalam Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.’ Isu tentang petani garam yang masih terjerat kemiskinan ikut terangkat dalam seminar yang menghadirkan tiga guru besar dari tiga lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia.

Ketua LPPM USM, Saisa ST MT selaku penanggung jawab kegiatan melaporkan, seminar membedah isu kemaritiman tersebut menghadirkan tiga guru besar dan seorang doktor sebagai narasumber, yaitu Prof Dr Ing Misri Gozan, M Tech IPM dari Universitas Indonesia (UI) mengupas pengembangan produk biokimia berbasis kelautan skala industri, Prof Dr Ir Indra Jaya MSc dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang penguasaan teknologi akustik, instrumentasi dan robotika kelautan bagi kejayaan maritim Aceh, Prof Dr Yety Rochwulaningsih MSi dari Universitas Diponegoro (Undip) mengupas tipologi dan upaya pengembangan garam rakyat di Aceh, serta Dr Muslem Daud MEd dari USM Banda Aceh membahas mengenai peluang dan tantangan pendidikan di wilayah pesisir Aceh.

“Saya berharap seminar ini dapat memberikan manfaat seluas-luasnya kepada kita semua, khususnya dari paparan potensi maritim Aceh,” kata Rektor USM, Dr Abdul Gani Asyik MA dalam sambutannya di hadapan narasumber, peserta dari kalangan mahasiswa, dan pembicara kunci dari kementerian kemaritiman yaitu Direktur Jasa Kelautan KKP, Ir Freude Tp Hutahaean MSi.

Direktur Jasa Kelautan KKP, Freude Tp Hutahaean mengupas antara lain tentang ketersediaan potensi garam di Indonesia yang menurutnya perlu terus didorong agar memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. “Perlu terus didorong agar petani garam memiliki lahan tambak seluas 15 hektare untuk satu produksi sehingga secara kualitas dan kuantitas garam kita dapat memenuhi kebutuhan pasar dan seragam. Kita akan sediakan gudang dan infrastruktur, karena itu perlu kerja sama dengan kampus dan mahasiswa dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas garam,” tandas Freude.

Guru Besar Undip, Prof Dr Yety Rochwulaningsih MSi mengungkapkan pelaku tambak garam di Aceh masih didominasi perempuan usia tua dan miskin. “Tidak ada petambak garam hidupnya sejahtera, jadi secara sosial ekonomi hidupnya benar-benar miskin karena itu pemerintah wajib menampungi kehidupan mereka agar menjadi lebih baik,” kata Yeti.

Menurut Yeti, potret petambak garam di Aceh masih subsistem, masih sekadar mempertahankan hidup, belum berpikir untuk projek sistem, karena itu ia mengharapkan bagaimana Aceh mendapatkan dukungan dari Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Kemaritiman dan Kelautan.

“Perlu didorong agar Pemerintah Aceh membuat regulasi yang simpel dengan Pemerintah Pusat untuk pembagian lahan tambak rakyat agar petani bisa hidup lebih sejahtera lagi. Saya sangat mendorong USM menindaklanjuti seminar ini dengan membentuk sebuah pusat kajian yang interdisipliner di bawah USM untuk mendorong riset dan kajian penelitian yang nantinya bisa bekerja sama dengan Undip, UI, dan IPB,” demikian Yety Rochwulaningsih yang juga sejarawan maritim ini.

Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2017/08/25/petani-garam-aceh-terjerat-kemiskinan

USM Bahas Isu Garam, Guru Besar UNDIP Sebut Potensi Garam Aceh

BANDA ACEH – Universitas Serambi Mekkah menggelar seminar nasional dengan mengusung tema “Ekplorasi Kekayaan Maritim Aceh di Era Globalisasi dalam Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”. Kegiatan akademik ini dipusatkan di Aula Audirorium USM, Batoh, 25 Agustus 2017.

Acara yang digagas LPPM USM ini menghadirkan tiga Guru Besar: Prof. Dr. Ing. Misri Gozan, M.Tech. IPM dari UI, Prof. Dr. Indra Jaya, M.Sc. dari IPB, Prof. Yety Rochwulaningsih, M. Si dari UNDIP Diponegoro, dan Dr. Muslem Daud, M.Ed dari USM.

Seminar ini dipandu oleh Dr. Marwan dari Unsyiah, diikuti lebih dari 200 mahasiswa, termasuk mahasiswa Unsyiah dan UIN Ar- Raniry.

Ketua Pelaksana, Mujiburahman dalam laporannya menyampaikan seminar nasional ini diikuti 68 pemakalah terdiri dari beberapa perguruan tinggi seperti USU, Unimal Malikussaleh, Unsyiah, UIN Arraniry, dan beberapa perguruan tinggi lainya.

Dalam kesempatan ini, ia mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah bekerja ekstra, “Saya ucapkan terima kasih kepada panitia yang sudah bekerja ekstra selama tiga bulan ini”.

Seminar ini dihadiri Rektor USM, Yayasan dan pengurus FORUM PRB Aceh, Nasir Nurdin. Dalam sambutannya, Rektor USM, Dr. Abdul Gani Asyik, M.A. menyampaikan masyarakat Aceh sebagai masyarakat pelaut, lautku ibuku.

“Kita sudah mengenal nama-nama pelaut ulung Aceh, seperti Keumalahayati dan juga Aceh sebagai daerah yang sudah dikenal dunia luar. Saya mengharapkan agar seminar ini dapat memberikan manfaat seluas-luasnya kepada kita semua, khususnya dari paparan potensi maritim Aceh,” pintanya.

Seminar bertajuk maritim ini dibuka oleh Drs. Abdul Karim, M.Si. atas nama Gubernur Aceh. Dalam kesempatan ini ia mengharapkan agar potensi kekayaan maritim Aceh dapat ditingkatkan eksploitasinya. Kemaritiman Aceh bukan hanya kekayaan ikan saja, melainkan juga banyak energi energi sumber daya alam lainya yang perlu dieksploitasi.

“Kita tidak hanya membicarakan ikan saja, tapi banyak potensi energi lainya di laut kita ini dan Aceh salah satu potensi kemaritiman dunia, untuk itu perlu kajian mendalam dalam paparan seminar ini dan harapan saya seminar ini mampu menggali lebih dalam lagi kekayaan sumber daya alam kemaritiman Aceh demi kemajuan dan pembangunan Aceh masa depan,” sebutnya.

Seminar ini menghadirkan Direktur Jasa Kelautan KKP, Ir. Freude T.P. Hutahaean, M.Si. Dalam kesempatannya ia menyampaikan ketersediaan potensi garam di Indonesia perlu didorong agar memenuhi kebutuhan pasar Indonesia.

“Kita terus mendorong kebijakan pengaturan impor karena kalau musim panas garam kita memadai, sebaliknya musim penghujan ketersediaanya terbatas,untuk itu perlu didorong petani garam supaya memiliki lahan tambak seluas 15 hektare untuk satu produksi sehingga secara kualitas dan kuantitas garam kita dapat memenuhi dan seragam, kita akan sediakan gudang dan infrastruktur, karena itu perlu kerja sama dengan kampus dan mahasiswa dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas garam.”

Dalam kesempatan ini, Prof. Yety Rochwulaningsih, M.Si., Guru Besar UNDIP sedikit banyak menyinggung potensi garam Aceh. Menurutnya, usaha garam rakyat merupakan salah satu kegiatan penting sebagai sumber nafkah bagi sebagian masyarakat pesisir Aceh.

Pelaku tambak garam di Aceh masih didominasi perempuan usia tua dan miskin.

“Tidak ada petambak garam hidupnya sejahtera, jadi secara sosial ekonomi hidupnya benar-benar miskin, karena itu pemerintah wajib menampung kehidupan mereka agar lebih baik lagi.”

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa potret petambak garam di Aceh masih subsisten, masih sekadar mempertahankan hidup, belum berpikir untuk projek sistem, karena itu ia mengharapkan bagaimana Aceh mendapatkan dukungan dari Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Kemaritiman dan Kelautan. Untuk itu, perlu didorong agar pemerintah provinsi membuat regulasi yang sederhana dengan Pemerintah Pusat untuk pembagian lahan tambak rakyat agar petani bisa hidup lebih sejahtera lagi.

“Saya sangat mendorong USM menindaklanjuti seminar ini dengan membentuk sebuah pusat kajian yang interdisipliner di bawah USM untuk mendorong riset dan kajian penelitian yang nantinya bisa bekerja sama dengan UNDIP, UI, dan IPB,” ungkap sejarawan maritim ini

Sumber: http://portalsatu.com/read/news/usm-bahas-isu-garam-guru-besar-undip-sebut-potensi-garam-aceh-33667

Prof Yety: Garam Aceh Berpotensi Tingkatkan Perekonomian

Aceh memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk memproduksi garam dan meningkatkan sektor ekonomi apabila dapat dikelola dengan baik. Hal itu disampaikan Prof. Yety Rochwulaningsih, M.Si, Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip) dalam materinya tentang T”ipologi Usaha Garam Rakyat di Aceh dan Usaha Pengembangannya”.

“Sebenarnya Aceh itu masih punya banyak tambak-tambak garam yang kemarin rusak sebagai dampak peristiwa tsunami. Saya kira itu potensi yang bisa kita perbaiki, kita revitalisasi, dan menjadi modal dasar pengembangan sektoral garam di Aceh,” kata Prof. Yety pada seminar kemaritiman di Universitas Serambi Mekkah (USM), Kamis, 24 Agustus 2017 kemarin.

Guru Besar Undip tersebut menjelaskan, selain memiliki potensi lahan tambak garam yang luas, jumlah petambak di Aceh saat ini sekitar 1.180 orang yang tersebar di beberapa kabupaten, seperti Aceh Utara 204 orang, Pidie Jaya 177 orang, Aceh Timur 131 orang, Aceh Besar 206 orang, Bireuen 162 orang, dan Pidie 300 orang.

“Ini luar biasa, luasnya justru lebih luas daripada yang digunakan untuk produksi, misalnya di daerah Pidie yang merupakan sentralnya,” jelas Prof. Yety.

“Saya kira ini ke depan minimal Aceh itu bisa menjadi swasembada untuk Aceh sendiri,” jelasnya lagi.

Dalam materi yang disampaikan, Prof. Yety sedikit menyinggung potensi garam yang menurutnya merupakan salah satu kegiatan penting sebagai sumber nafkah bagi sebagian masyarakat pesisir Aceh, khususnya saat mengetahui garam untuk dikonsumsi dipasok dari luar ke Aceh.

“Dunia industri kita masih terbuka luas sehingga pemanfaatan lahan-lahan potensi tadi menjadi pintu masuk bagi upaya pengembangan sektor garam di Aceh,” ungkapnya.

Selanjutnya, guru besar itu mengatakan ke depannya kita harus memahami bagaimana membangun atau mengembangkan industri pengelola garam, begitu kita produksi dari para petambak kita, tidak serta-merta langsung kita manfaatkan.

“Berarti kan perlu industri pengelola. Oleh karena itu, ini merupakan peluang untuk menghidupkan industri-industri pengelola di Aceh,” katanya.

Upaya masyarakat yang bagaimana merevitalisasi lahan tambak tsunami kemarin itu juga dibutuhkan dukungan besar riset-riset bagaimana membangun mindset penambak supaya tidak lagi membuat garam hanya untuk bertahan hidup, tetapi sekalian untuk kesejahteraan mereka.

“Jadi saya kira pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, kan harus ada campur tangan dari perguruan tinggi,” jelasnya.

“Terus kemudian teknologi, teknologi yang tepat yang dapat digunakan untuk petambak yang khas di Aceh ini dengan teknologi yang spesifik seperti ini,” jelasnya lagi. (*sar)

Teknologi yang digunakan juga harus sesuai dengan karakteristik lapangan. “Oleh karena itu sinergitas perguruan tinggi Pemkab dan pemerintah pusat itu menjadi kunci termasuk didalamnya dunia usaha,” harap Prof. Yety.

“Mindset merevitalisasi untuk berorientasi pada profit perlu dibangun sebagai entrepreneur sebagai pengusaha perlu dibangun dan ini peran perguruan tinggi,” harapnya lagi

Sumber : http://portalsatu.com/read/news/prof-yety-garam-aceh-berpotensi-tingkatkan-perekonomian-33668