Prof Yety: Garam Aceh Berpotensi Tingkatkan Perekonomian

Aceh memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk memproduksi garam dan meningkatkan sektor ekonomi apabila dapat dikelola dengan baik. Hal itu disampaikan Prof. Yety Rochwulaningsih, M.Si, Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip) dalam materinya tentang T”ipologi Usaha Garam Rakyat di Aceh dan Usaha Pengembangannya”.

“Sebenarnya Aceh itu masih punya banyak tambak-tambak garam yang kemarin rusak sebagai dampak peristiwa tsunami. Saya kira itu potensi yang bisa kita perbaiki, kita revitalisasi, dan menjadi modal dasar pengembangan sektoral garam di Aceh,” kata Prof. Yety pada seminar kemaritiman di Universitas Serambi Mekkah (USM), Kamis, 24 Agustus 2017 kemarin.

Guru Besar Undip tersebut menjelaskan, selain memiliki potensi lahan tambak garam yang luas, jumlah petambak di Aceh saat ini sekitar 1.180 orang yang tersebar di beberapa kabupaten, seperti Aceh Utara 204 orang, Pidie Jaya 177 orang, Aceh Timur 131 orang, Aceh Besar 206 orang, Bireuen 162 orang, dan Pidie 300 orang.

“Ini luar biasa, luasnya justru lebih luas daripada yang digunakan untuk produksi, misalnya di daerah Pidie yang merupakan sentralnya,” jelas Prof. Yety.

“Saya kira ini ke depan minimal Aceh itu bisa menjadi swasembada untuk Aceh sendiri,” jelasnya lagi.

Dalam materi yang disampaikan, Prof. Yety sedikit menyinggung potensi garam yang menurutnya merupakan salah satu kegiatan penting sebagai sumber nafkah bagi sebagian masyarakat pesisir Aceh, khususnya saat mengetahui garam untuk dikonsumsi dipasok dari luar ke Aceh.

“Dunia industri kita masih terbuka luas sehingga pemanfaatan lahan-lahan potensi tadi menjadi pintu masuk bagi upaya pengembangan sektor garam di Aceh,” ungkapnya.

Selanjutnya, guru besar itu mengatakan ke depannya kita harus memahami bagaimana membangun atau mengembangkan industri pengelola garam, begitu kita produksi dari para petambak kita, tidak serta-merta langsung kita manfaatkan.

“Berarti kan perlu industri pengelola. Oleh karena itu, ini merupakan peluang untuk menghidupkan industri-industri pengelola di Aceh,” katanya.

Upaya masyarakat yang bagaimana merevitalisasi lahan tambak tsunami kemarin itu juga dibutuhkan dukungan besar riset-riset bagaimana membangun mindset penambak supaya tidak lagi membuat garam hanya untuk bertahan hidup, tetapi sekalian untuk kesejahteraan mereka.

“Jadi saya kira pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, kan harus ada campur tangan dari perguruan tinggi,” jelasnya.

“Terus kemudian teknologi, teknologi yang tepat yang dapat digunakan untuk petambak yang khas di Aceh ini dengan teknologi yang spesifik seperti ini,” jelasnya lagi. (*sar)

Teknologi yang digunakan juga harus sesuai dengan karakteristik lapangan. “Oleh karena itu sinergitas perguruan tinggi Pemkab dan pemerintah pusat itu menjadi kunci termasuk didalamnya dunia usaha,” harap Prof. Yety.

“Mindset merevitalisasi untuk berorientasi pada profit perlu dibangun sebagai entrepreneur sebagai pengusaha perlu dibangun dan ini peran perguruan tinggi,” harapnya lagi

Sumber : http://portalsatu.com/read/news/prof-yety-garam-aceh-berpotensi-tingkatkan-perekonomian-33668

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *