USM Bahas Isu Garam, Guru Besar UNDIP Sebut Potensi Garam Aceh

BANDA ACEH – Universitas Serambi Mekkah menggelar seminar nasional dengan mengusung tema “Ekplorasi Kekayaan Maritim Aceh di Era Globalisasi dalam Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”. Kegiatan akademik ini dipusatkan di Aula Audirorium USM, Batoh, 25 Agustus 2017.

Acara yang digagas LPPM USM ini menghadirkan tiga Guru Besar: Prof. Dr. Ing. Misri Gozan, M.Tech. IPM dari UI, Prof. Dr. Indra Jaya, M.Sc. dari IPB, Prof. Yety Rochwulaningsih, M. Si dari UNDIP Diponegoro, dan Dr. Muslem Daud, M.Ed dari USM.

Seminar ini dipandu oleh Dr. Marwan dari Unsyiah, diikuti lebih dari 200 mahasiswa, termasuk mahasiswa Unsyiah dan UIN Ar- Raniry.

Ketua Pelaksana, Mujiburahman dalam laporannya menyampaikan seminar nasional ini diikuti 68 pemakalah terdiri dari beberapa perguruan tinggi seperti USU, Unimal Malikussaleh, Unsyiah, UIN Arraniry, dan beberapa perguruan tinggi lainya.

Dalam kesempatan ini, ia mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah bekerja ekstra, “Saya ucapkan terima kasih kepada panitia yang sudah bekerja ekstra selama tiga bulan ini”.

Seminar ini dihadiri Rektor USM, Yayasan dan pengurus FORUM PRB Aceh, Nasir Nurdin. Dalam sambutannya, Rektor USM, Dr. Abdul Gani Asyik, M.A. menyampaikan masyarakat Aceh sebagai masyarakat pelaut, lautku ibuku.

“Kita sudah mengenal nama-nama pelaut ulung Aceh, seperti Keumalahayati dan juga Aceh sebagai daerah yang sudah dikenal dunia luar. Saya mengharapkan agar seminar ini dapat memberikan manfaat seluas-luasnya kepada kita semua, khususnya dari paparan potensi maritim Aceh,” pintanya.

Seminar bertajuk maritim ini dibuka oleh Drs. Abdul Karim, M.Si. atas nama Gubernur Aceh. Dalam kesempatan ini ia mengharapkan agar potensi kekayaan maritim Aceh dapat ditingkatkan eksploitasinya. Kemaritiman Aceh bukan hanya kekayaan ikan saja, melainkan juga banyak energi energi sumber daya alam lainya yang perlu dieksploitasi.

“Kita tidak hanya membicarakan ikan saja, tapi banyak potensi energi lainya di laut kita ini dan Aceh salah satu potensi kemaritiman dunia, untuk itu perlu kajian mendalam dalam paparan seminar ini dan harapan saya seminar ini mampu menggali lebih dalam lagi kekayaan sumber daya alam kemaritiman Aceh demi kemajuan dan pembangunan Aceh masa depan,” sebutnya.

Seminar ini menghadirkan Direktur Jasa Kelautan KKP, Ir. Freude T.P. Hutahaean, M.Si. Dalam kesempatannya ia menyampaikan ketersediaan potensi garam di Indonesia perlu didorong agar memenuhi kebutuhan pasar Indonesia.

“Kita terus mendorong kebijakan pengaturan impor karena kalau musim panas garam kita memadai, sebaliknya musim penghujan ketersediaanya terbatas,untuk itu perlu didorong petani garam supaya memiliki lahan tambak seluas 15 hektare untuk satu produksi sehingga secara kualitas dan kuantitas garam kita dapat memenuhi dan seragam, kita akan sediakan gudang dan infrastruktur, karena itu perlu kerja sama dengan kampus dan mahasiswa dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas garam.”

Dalam kesempatan ini, Prof. Yety Rochwulaningsih, M.Si., Guru Besar UNDIP sedikit banyak menyinggung potensi garam Aceh. Menurutnya, usaha garam rakyat merupakan salah satu kegiatan penting sebagai sumber nafkah bagi sebagian masyarakat pesisir Aceh.

Pelaku tambak garam di Aceh masih didominasi perempuan usia tua dan miskin.

“Tidak ada petambak garam hidupnya sejahtera, jadi secara sosial ekonomi hidupnya benar-benar miskin, karena itu pemerintah wajib menampung kehidupan mereka agar lebih baik lagi.”

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa potret petambak garam di Aceh masih subsisten, masih sekadar mempertahankan hidup, belum berpikir untuk projek sistem, karena itu ia mengharapkan bagaimana Aceh mendapatkan dukungan dari Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Kemaritiman dan Kelautan. Untuk itu, perlu didorong agar pemerintah provinsi membuat regulasi yang sederhana dengan Pemerintah Pusat untuk pembagian lahan tambak rakyat agar petani bisa hidup lebih sejahtera lagi.

“Saya sangat mendorong USM menindaklanjuti seminar ini dengan membentuk sebuah pusat kajian yang interdisipliner di bawah USM untuk mendorong riset dan kajian penelitian yang nantinya bisa bekerja sama dengan UNDIP, UI, dan IPB,” ungkap sejarawan maritim ini

Sumber: http://portalsatu.com/read/news/usm-bahas-isu-garam-guru-besar-undip-sebut-potensi-garam-aceh-33667

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *